Perceraian Bisa Membuat Masa Depan Anak Suram?

Saat menikah, tentu Smart Mom dan pasangan berharap hubungan bisa langgeng sampai masa tua nanti. Tapi siapa sangka, di tengah jalan ada banyak masalah yang mungkin membuat Smart Mom dan pasangan memilih untuk menyudahi hubungan ini.

Lantas, bagaimana dengan anak-anak?

Tidak dipungkiri lagi jika perceraian yang selama ini dianggap sebagai solusi terkahir untuk mengatasi masalah dalam rumah tangga, akan menimbulkan luka yang mendalam. Tidak hanya untuk Smart Mom dan suami, tapi juga berpengaruh pada masa depan anak.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari Unversity of Montreal, menunjukkan jika anak-anak yang menghadapi perceraian orang tua, cenderung mengalami gejala gangguan kesehatan mental jangka pendek, seperti gangguan kecemasan, stres, dan depresi.

Jika terus dibiarkan, menurut Jennifer O'Loughlin, ketua tim peneliti dari Unversity of Montreal, kondisi ini akan menimbulkan dampak buruk seperti kehilangan kepercayaan diri, penurunan prestasi dan yang paling buruk, anak-anak bisa terjebak dalam pergaulan bebas.

Lebih lanjut lagi, trauma perceraian pun akan menghantui hubungan sosial mereka. Konflik rumah tangga yang berujung perceraian, bisa membuat mereka enggan untuk membina hubungan rumah tangga. Dampak ini umumnya lebih berisiko jika yang mengalaminya merupakan anak perempuan.

Hal yang sama disampaikan Steven Harris, Profesor Family Social Science di University of Minnesota, yang menyebut jika anak korban perceraian akan merasa terisolasi, sehingga cenderung mencari kenyamanan di dunia luar.

Dampaknya bagaikan perjudian, jika mereka bergaul di lingkungan yang baik, mereka mungkin akan jadi semakin kuat. Tapi jika mereka salah dalam bergaul, lingkungan akan membentuk mereka jadi benci keluarga, terlibat kenakalan remaja hingga aksi kejahatan.

Bagaimana cara mencegahnya?

Sebisa mungkin Smart Mom dan pasangan harus berbicara dengan hati terbuka. Perbaiki konflik dan usahakan agar perceraian tidak terjadi. Jika perceraian jadi jalan terkahir yang harus diambil, berkomitmenlah untuk membesarkan anak-anak bersama.

Menurut Harris, ini bukan masalah hak asuh atau perasaan yang tersakiti karena salah satu pihak, tapi demi kebaikan dan masa depan anak-anak. So, bijaklah dalam mengambil keputusan!

posted 04 September 2018 - 13:20