Bagikan

Makanan Manis Membuat Anak Hiperaktif, Mitos atau Fakta Smart Mom?

Diupload pada 2 October 2017, 12:00 AM1 menit baca Smart Life
Makanan Manis Membuat Anak Hiperaktif, Mitos atau Fakta Smart Mom?

Sulit memisahkan anak-anak dari permen, donat, sirup dan makanan lainnya dengan kandungan gula tinggi. Jelas ini tidak baik Smart Mom, pasalnya kebanyakan konsumsi gula bisa berdampak buruk bagi anak-anak, terutama menyebabkan obesitas, karies gigi dan masalah kesehatan lainnya.

Tapi benarkah makanan manis bisa membuat anak hiperaktif?

Dilansir dalam Babycenter, hingga kini para pakar masih memperdebatkan tentang hubungan antara gula dan hiperaktif. Sebagian setuju dengan anggapan tersebut, tapi sebagian lagi justru menyodorkan fakta lainnya yang bertolak belakang.

Jika melihat sejarahnya, ahli alergi Benjamin Feingold merupakan orang pertama yang menerapkan konsep gula, pewarna makanan dan zat pengawet bisa menyebabkan hiperaktif lewat bukunya yang berjudul Diet Feingold di tahun 1973.

Setelah itu, sebuah penelitian diterbitkan dalam jurnal Food dan Cosmetic Toxicology di tahun 1978 tersebut menemukan jika dalam anak hiperaktif, ditemukan banyak gula di tubuhnya. Sejak saat itulah gula mulai dikenal sebagai penyebab anak jadi monster yang nggak bisa diam.

Namun penelitian lainnya yang lebih modern, justru tidak menemukan hubungan antara gula dengan perilaku hiperaktif anak-anak. Justru sebaliknya, gula cukup dibutuhkan anak-anak sebagai sumber tenaga untuk beraktivitas.

Walaupun begitu, konsumsinya harus dibatasi dan maksimalkan dengan asupan nutrisi lengkap, seperti sayuran, buah-buahan, susu, ikan dan makanan tinggi nutrisi lainnya.

Tidak hanya itu, sebuah penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari Center for Science in the Public Interest di Ameriksa, yang mempelajari beberapa penelitian lainnya terkait konsumsi gula dan hiperaktif, tidak menemukan hubungan tersebut.

Bahkan lebih jauh lagi, laporan yang merupakan hasil beberapa studi yang diajukan oleh para profesional bidang kesehatan dan para produsen makanan, menyebut jika makanan yang dikonsumsi tidak berhubungan dengan perilaku anak.

Terlepas dari semua itu, para peneliti setuju jika konsumsi gula secara berlebih bisa menyebabkan dampak buruk bagi anak-anak.