Bagikan

Permainan Tradisional Tidak Membuat Anak Ketagihan Seperti Layaknya Gadget, Benarkah?

Diupload pada 8 May 2018, 12:00 AM2 menit baca Smart Parenting
Permainan Tradisional Tidak Membuat Anak Ketagihan Seperti Layaknya Gadget, Benarkah?

Sekarang ini, anak-anak sudah biasa bermain gadget. Ada banyak hal menyenangkan yang bisa dilakukan dengan benda berteknologi tinggi ini, dari mulai bermain games, hingga menonton video. Tidak hanya itu, belakangan ini banyak juga anak-anak yang sudah punya akun sosial media sendiri.

Apakah Permainan Tradisional Bisa Membuat Si Kecil Kecanduan?

Jika dihitung dari faktor fun, permainan tradisional sama-sama menyenangkan, terutama saat dimainkan bersama teman-temannya. Misalnya permainan petak umpet, permainan berburu harta karun, atau permainan yang lebih Indonesia, seperti engrang, galah asin, dan lainnya.

Selain dapat membuat anak-anak lebih aktif bergerak dan berfikir mencari solusi, permainan seperti ini pun mampu melatih kemampuan bersosialisasi Si Kecil.

Hal ini berbeda dengan gadget atau mainan elektronik lainnya. Menurut psikolog anak dan remaja, sekaligus Founder dan CEO Personal Growth, Dra. Ratih Ibrahim, MM, semua yang menggunakan energi listrik cenderung memiliki denyutan stimulus.

Lebih lanjut lagi, Ratih menjelaskan jika stimulus tersebut akan ditangkap oleh mata dan neuron, hingga akhirnya akan menstimulasi dan memberikan sensasi menyenangkan. Sensasi inilah yang akan dihafal oleh otak sehingga menimbulkan efek kecanduan.

Hal ini jelas bebeda dengan permainan tradisional, seperti petak umpet, permainan berburu harta karun dan lainnya, atau permainan dalam bentuk nyata, seperti mobil-mobilan, boneka, atau lego, yang tidak menimbulkan adiksi atau efek kencanduan pada anak.

Justru sebaliknya, permainan tradisional dan permainan dalam bentuk nyata, merupakan stimulan terbaik yang efektif untuk merangsang kreativitas Si Kecil. Makin anak diberi ruang untuk berkreasi, otomatis dia pun akan makin kreatif dan memiliki daya imajinasi yang luar biasa.

Apakah Si Kecil Harus Dijauhkan dari Gadget?

Selain memiliki banyak dampak buruk, gadget pun memiliki banyak dampak baik jika digunakan dalam porsinya. Menurut Citra Annisa MPsi., psikolog anak dan remaja dari Tiga Generasi, gadget boleh saja diberikan, tapi penggunaannya harus benar-benar dibatasi.

Misalnya, gadget hanya boleh diberikan saat akhir pekan, itu pun durasinya tidak boleh lebih dari 1-2 jam. Setelah itu, ajak anak kembali menikmati family time. Tapi ingat, jangan dengan paksaan. Penerapan aturan ini harus dilakukan secara perlahan dan lembut agar dia tidak merasa dikekang.