Teknologi Jepang untuk Semua Solusi Mencuci

Seberapa Pentingkah Menghadiri Acara Reuni Sekolah?

Posted on 22 August 2019, 11:57 AM
Seberapa Pentingkah Menghadiri Acara Reuni Sekolah?

Seiring dengan bertambahnya usia, mendapatkan undangan reuni sekolah SMA atau kuliah – bisa menimbulkan perasaan yang tidak biasa, bahkan tidak nyaman. Sebab, meskipun ada yang bersemangat begitu mendapatkan undangan reuni tersebut, Smart Mom bisa jadi justru merasa malas dan mulai mencari cara untuk mendapatkan alasan agar bisa menghindari acara tersebut.

Eits, Smart Mom tak perlu buru-buru membuat keputusan, kok. Berikut ini ada cerita soal reuni dan kaitannya dengan perasaan seseorang yang bisa Smart Mom baca dulu sebelum memutuskan apakah penting untuk menghadiri acara reuni sekolah atau tidak.

Reuni Sekolah dan Sisi Psikologisnya

Larry Waldman, Ph.D, seorang psikolog klinis dan forensic dari Amerika pada tahun 2015 merilis sebuah artikel ilmiah yang mengulas sisi psikologis dari reuni sekolah. Tulisan tersebut berakar dari pengalaman pribadi ketika ia dan istrinya, Nan, sama-sama mendapatkan undangan reuni SMA mereka. Kebetulan, keduanya bersekolah di SMA yang sama.

Keduanya ternyata punya reaksi berbeda. Nan yang cukup populer dan aktif di berbagai aktivitas di SMA merasa antusias, bahkan bersedia bergabung dalam panitia reuni. Sementara Waldman punya reaksi yang berkebalikan, lantaran ia langsung teringat betapa ia merasa terasing selama masa SMA. Waldman dan Nan bahkan tidak berkencan selama SMA, karena hubungan mereka justru dimulai jauh sesudahnya.

Karena ingatan masa lalunya itu, Waldman merasa ia kembali ke fase canggung – sebuah emosi yang ia rasa tak pernah hilang. Waldman pun menduga bahwa orang-orang dengan pengalaman positif di masa sekolah barangkali lebih merasa positif ketika mendapatkan undangan reuni. Belum lagi, ada dorongan untuk membanding-bandingkan diri selama acara reuni nanti, yang bisa berujung dengan rasa puas atau malah rasa takut.

Dalam artikelnya, Waldman pun mengutip artikel lain yang dimuat di harian Chicago Tribune pada tahun 2011. Artikel tersebut adalah soal “ciri-ciri” dari masing-masing reuni, yaitu:

  • Reuni 10 tahun yang paling bersemangat untuk dihadiri, dan barangkali yang paling wah.
  • Reuni 20 tahun yang disimpulkan sebagai reuni terbaik untuk dihadiri. Pasalnya, para alumni yang hadir sudah memiliki karir dan jalan hidup masing-masing, atau tak lagi mengalami perubahan besar dalam hidup.
  • Reuni 30 tahun yang ditandai dengan kehidupan para almamater yang makin berwarna. Misal karena perceraian, menikah kembali, lahirnya anak at au tambah anak, naik jabatan, atau bahkan perubahan karir. Biasanya, peserta lebih nyaman jika mereka datang sendiri tanpa pasangan.
  • Reuni 40 tahun di mana para peserta sudah memasuki awal-awal masa tua, sehingga mereka punya kehidupan yang relatif mirip.
  • Reuni 50 tahun yang juga dianggap sebagai reuni terbaik. Jumlah pesertanya jauh lebih sedikit dan acara diisi dengan nostalgia, meskipun banyak yang mungkin berpura-pura tidak mengingatnya.

Sisi psikologis dari reuni pun ternyata berkaitan dengan usia. Misalnya, sekarang ketika Smart Mom belum melewati angka 35 tahun. Saat ini, Smart Mom masih menjadikan keluarga dan anak-anak sebagai prioritas, karena cinta menjadi tujuan. Nah, ketika tujuan tersebut tak tercapai lantaran ada masalah di keluarga, timbul rasa terisolasi, sehingga menghadiri reuni jadi kurang nyaman atau kurang menarik.

Sedangkan mereka yang sudah melewati usia 35 tahun biasanya fokus pada karir sambil mempertahankan hubungan keluarga. Lalu, masih ada aktivitas di lingkungan masyarakat. Pada fase ini, produktivitas dan kepedulian jadi tujuan hidup – apabila gagal, perasaan gagal dan tidak produktif pun muncul. Nah, inilah masalah yang dihadapi oleh mereka yang akan menghadiri reuni 30 dan 40 tahun.

Dan setelah memasuki masa pensiun, orang-orang biasanya akan lebih banyak menghabiskan waktu untuk merenung. Tujuannya adalah memastikan keteguhan hati, yang tercapai jika perenungan memberikan rasa positif. Jika renungan menunjukkan perasaan negatif, rasa putus asa pun datang.

Pada akhirnya, Waldman menyimpulkan bahwa sebenarnya semua orang yang hadir dalam acara reuni pada esensinya menghadapi masalah yang sama, Smart Mom. Karena itu, Smart Mom santai saja ketika akan menghadiri reuni sekolah; mengobrol dengan teman lama, atau menjalin kembali komunikasi dengan teman dekat yang sudah lama tidak berjumpa.

Jadi, tak perlu tertekan lagi ketika mendapatkan undangan reuni ya Smart Mom!

Prev Post

Smart Mom, Ini Tanda Pertemanan yang Tidak Sehat

Next Post

Bau Asap Rokok Menempel di Baju, Bisa Picu Kerusakan Otak!

SHARE TO