Bagikan

Apakah Body Shaming Itu dan Bagaimana Terjadi Pada Anak?

Diupload pada 20 October 2018, 12:00 AM2 menit baca Smart Parenting
Apakah Body Shaming Itu dan Bagaimana Terjadi Pada Anak?

Smart Mom pernah mendengra istilah body shaming? Istilah ini muncul sebagai pembentukan pola negatif, baik untuk diri sendiri atau orang lain, terkait bentuk fisik. Tidak hanya anak remaja dan dewasa, body shaming pun bisa menimpa anak-anak.

Bagaimana body shaming terjadi pada anak?

Sama seperti hipnotis, anak awalnya akan dibuat percaya jika tubuhnya memang tidak sempurna. Misalnya rambutnya keriting, kulitnya hitam, hidung pesek atau bibirnya tebal.

Terus menerus menerima ejekan tersebut, akan membuat anak menerima ejekan tersebut, dengan catatan, Si Kecil akan menganggap rambut keritingnya, kulitnya yang hitam atau bibirnya yang tebal, sebagai kekurangan dan harus segera disingkirkan.

Dari sinilah akan timbul body shaming atau kecewa dengan bentuk tubuh sendiri. Jika dibiarkan, kondisi ini akan terus terjadi hingga dewasa nanti, dan Si Kecil akan berusaha menghilangkan kekurangannya dengan berbagai cara, misalnya rebonding untuk meluruskan rambut dan lainnya

Dari segi psikologis, menurut Ratih Zulhaqqi, MPsi., psikolog anak dan remaja dari lembaga Kancil, body shaming bisa menyebabkan Si Kecil merasa rendah diri, self concept yang buruk, mengalami penurunan self image dan lainnya.

Sementara jika Si Kecil yang menjadi pelaku body shaming, tentu saja dampaknya akan sama seperti bullying. Selain bisa menyebabkan Si Kecil jadi public enemy, jika dibiarkan Si Kecil pun akan sulit menghargai orang lain, jadi pribadi yang rasis dan sulit menerima perbedaan dari bentuk fisik.

Bagaimana cara mengatasinya?

Jika Si Kecil mengalami body shaming, hal yang pertama yang harus dilakukan adalah jangan pernah menyangkal. Misal, jika anak diejek karena memiliki kulitnya yang hitam, katakan saja jika dia memang punya kulit hitam kok!

Setelah itu, jelaskan kenapa kulit setiap orang berbeda. Sambil menjelaskan warna kulit, Smart Mom bisa memberikan informasi terkait kelebihan kulit gelap, hingga kenapa kulit setiap ras berbeda.

Jelaskan juga jika standar cantik di tiap budaya itu berbeda. Misalnya di Indonesia lebih menyukai orang berkulit kuning langsat, sementara orang Eropa dan Amerika memandang mereka yang berkulit gelap itu eksotis dan menarik.

Dengan cara ini, pengetahuan Si Kecil akan meningkat, dan dia pun jadi lebih percaya diri. Selamat mencoba Smart Mom!